Klik ini untuk Kembali ke BERANDA UTAMA

Mengambil Hikmah Dari Kejadian

Oleh : Rama & Abu Akmal Mubarok

Bismillaah..

Assalamualaikum wr.wb..


Sahabat2ku, ijinkan kami berdua berbagi cerita kepada anda, tentang sebuah muhasabah diri dari tafakur dengan alam, kejadian2 yg ada di sekitar kita, dan mencoba mengambil hikmah.

Bberapa bulan lau kita mendengar berita lagi-lagi terjadi tabrakan kereta api. Saya jadi teringat dulu ketika baru-baru terjadi jatuhnya pesawat Adam Air di laut Sulawesi, ratusan orang juga meninggal, disusul dengan pemeriksaan semua maskapai penerbangan di Indonesia dan ternyata banyak yang tidak memenuhi syarat dan bahkan disinyalir menggunakan suku cadang bekas (kayak angkot aja).


Saya sempat beberapa lama tidak mau naik pesawat, dan memilih naik kereta api. Namun ketika terjadi tabrakan seperti ini apa lalu kita ganti naik bis saja ? Ah bingung, ujungnya sama saja, semua kendaraan umum tidak ada yang safe. Pesawat jatuh, kereta api tabrakan, bis apalagi paling sering tabrakan..


Lho lho … ngomongin apa ini? Soal kematian lagi ? Oh nggak-nggak, saya yakin sahabat semua sudah malas mendengar soal kematian lagi. Kali ini saya cuma berpikir soal takdir. Innaka ‘ala kulli syai’in qodir.. semua terjadi atas kehendakNya..


Jadi setelah saya pikir ketika kita hendak pergi mau naik apa saja kek, mau kemana saja kek kalau memang sudah ajalnya, ya meninggal-meninggal juga. Bahkan tidak keluar rumah sekalipun juga meninggal juga.

"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu" (Q.S. 62:8).

Tapi kalau memang belum ajalnya, mau pesawat jatuh kek, mau kereta api jatuh kek.. pasti kita gak akan mati. Gak akan matinya itu banyak caranya.. mungkin kita ketinggalan pesawat sehingga tidak jadi menaiki pesawat naas itu, mungkin kita ketinggalan kereta, gak kebagian karcis, ketinggalan tiket, atau malah mobil kita serempetan di jalan ketika menuju stasiun, akhirnya gak jadi naik kereta api naas itu.. Bukankah semua itu hanya skenario dari sang sutradara tunggal yaitu Allah Azza wajalla??


Kita tidak bisa lari dari takdir. Bahkan kalaupun kita memilih untuk melakukan tindakan lain, maka kita berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya.


"Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan kalaupun (kamu bisa menghindar dari kematian) kamu tidak akan mengalami kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16).


Sebagaimana Umar bin Khattab ketika hendak memasuki sebuah negeri yang sedang berjangkit suatu penyakit lalu ia berkata : 'Jika kita memasuki negeri itu maka kita menjalani takdir dan seandainya kita tidak memasuki negeri itu maka kita berpindah pada takdir lainnya'.


Jadi sebenarnya hidup kita ini mirip mengikuti acara televisi, di hadapan kita telah tersedia pilihan channel-channel acara, kalau kita pilih saluran 1 acaranya ini, kalau pilih channel 2 acaranya itu, dan seterusnya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan tersaji di hadapan kita ketika kita memilih atau mengambil suatu keputusan. (bisa saja kita mengira-ngira atau meramalkan apa yang bakal terjadi namun sejujurnya kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi).


Kita tidak kuasa untuk membuat siaran sendiri dan menyediakan channel sendiri. Ketika kita memilih sebuah channel kita juga belum tahu apa yang akan terjadi kemudian, sehingga kita tinggal menunggu-nunggu apa yang akan tersaji dalam kehidupan kita. Lalu kita tinggal menjalaninya. Hidup ini mengalir bagaikan air, ikuti saja aliran air itu.


Lalu apakah kita tidak boleh merencanakan sesuatu?? Tidak boleh berusaha?? Tentu saja boleh bahkan harus. Karena Allah tidak diam. Yang namanya takdir itu memang benar sudah dari sononya tapi bukan sesuatu yang tidak akan berubah. Setiap detik bahkan setiap seperseratus atau seper semilyar detik Allah terus menetapkan takdir.


Artinya dalam setiap saat takdir itu bisa saja berubah-ubah. Itu semua terserah Allah. Nah dalam hal ini usaha dan ikhtiar kita mirip seperti kita mengajukan proposal saja kepada Allah. Bisa jadi Allah tetap pada ketetapanNya semula, namun bisa saja Allah akan mengubahnya sesuai dengan kadar ikhtiar kita. Perubahannya bisa sesuai dengan proposal yang kita ajukan, atau berubah dari takdir semula tapi perubahannya tetap tidak sama dengan yang kita inginkan. Apapun bisa terjadi.


Jadi sikap kita dalam hidup di dunia ini dalam hal apapun adalah lakukan sebaik mungkin dan berusaha sekeras mungkin, se-perfect mungkin, namun setelah itu pasrahkan hasilnya dan tak usah dinanti-nanti, tak usah harap-harap cemas, tak usah dihitung-hitung lagi usaha yang telah kita lakukan. Jangan sekali-kali kita berfikir bahwa oleh karena saya sudah melakukan begini begitu, sudah mengeluarkan segini segitu, maka pastilah hasilnya akan seperti yang kita targetkan. Seperti usaha anda dalam mengejar jodoh, target dan pikiran serta tenaga sudah terkuras habis, tp kenapa jodoh kok gak datang2..?

Yaachh..kalau Allah memang belum mentakdirkan, mau berusaha kayak apa juga akan hasilnya nol. Hanya saja usaha itu tetap harus dilakukan, tak boleh hanya duduk manis didepan pintu dan berdoa melulu tp tak ada ikhtiar.

Seperti sebuah hadist nabi: 'Seandainya engkau tahu bahwa besok itu hari kiamat, tp ditanganmu telah tergenggam benih pohon, maka tetap tanamlah'.


Kenapa begitu?? Karena betapapun hebatnya usaha kita, betapapun bagusnya ibadah kita, semua itu hanya perkiraan kita belaka, karena tetap ada hal-hal yang kita tidak tahu. Kita sudah merasa baguuus kerjanya, ternyata bos kita gak suka. (bisa aja kan kalau Allah berkehendak kita untuk gagal ada aja jalannya). Kita sudah merasa khusyuuuu banget sholatnya, zikir sudah berbusa-busa bibir kita, tapi siapa yang tahu, ternyata dimata Allah kita dianggap tidak ikhlash (lha siapa tahu?? Bisa saja kan?)


Makanya ujung2nya semua itu terserah Allah. Kita pasrah dan berserah diri saja pada Allah, mau kejadiannya bakal bagaimana aja, kita terima saja (itulah salah satu makna Islam, aslama, yaitu berserah diri).



Barakallahufikum..smoga bermanfaat buat semua.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar