Klik ini untuk Kembali ke BERANDA UTAMA

SERI MA’RIFATULLAH 'JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH' (Atthooriqu ilaa Ma’rifatullah)








BAGIAN 2

Cc: Abuakmal Mubarok
----------------------------

Mereka Bertanya Tentang Tuhan (Allah) !

Karen Armstrong menulis buku yang terkenal “Sejarah Tuhan” berkesimpulan bahwa Tuhan merupakan produk imajinasi kreatif sebagaimana halnya seni dan musik. Bahkan dia mengatakan bahwa gagasan mengenai Tuhan itu sepenuhnya buatan manusia, tidak bisa tidak ) .

Mengapa ada manusia yang tidak sampai pada suatu kesimpulan bahwa Tuhan itu ada ? Sedangkan sebagian manusia meyakini Tuhan itu ada.
Tetapi keyakinan ini dianggap sebagai keyakinan semu, karena keyakinan itu diciptakan atau diindoktrinasikan sendiri kedalam dirinya sendiri. Sebagaimana ungkapan Karen Armstrong yang menyatakan : “Ketimbang menanti Tuhan turun dari ketinggian, saya mesti secara sengaja menciptakan rasa tentang DIA di dalam diri saya”) .

Sebagian besar orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan sebenarnya lebih disebabkan karena kegagalannya dalam memahami konsep ketuhanan dalam agamanya. James Joyce seperti dikutip oleh Karen Armstrong menyatakan bahwa Tuhan merupakan figur kabur yang lebih didefinisikan melalui abstraksi intelektual daripada imajinasi.

Yang perlu diingat adalah bahwa ketidakjelasan figur Tuhan TIDAK membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Demikian pula kegagalan kita dalam memahami siapa itu Tuhan sama sekali TIDAK membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.


Antara Akal dan Hati

Sebagian orang berpendapat bahwa Tuhan di luar jangkauan otak manusia. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Karena apa gunanya manusia dianugerahi otak dan akal pikiran kalau Tuhan tidak bisa dipahami. Justru dengan otak dan akal pikiran itulah manusia memiliki senjata yang lebih dibandingkan makhluk lainnya.

Setiap orang pasti menggunakan otak dan akal pikirannya untuk memahami sesuatu. Orang yang percaya Tuhan dan orang yang tidak percaya Tuhan sama-sama menggunakan otak dan akal pikirannya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara dia berpikir..?!

Akal pikiran itu memiliki berbagai sumber masukan. Orang yang cenderung materialis, hanya berpikir kepada apa yang nampak atau yang dapat ditangkap oleh panca inderanya saja. Sehingga sumber masukan otaknya semata-mata mengandalkan panca inderanya. Demikian pula sikapnya ketika mencoba memahami Tuhan, dia menuntut agar Tuhan tersebut bisa ditangkap oleh panca inderanya.

Sebagai contoh, A.J. Ayer berkata “apa gunanya percaya kepada Tuhan ?”.
Ilmu alam dan sains teknologi merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat diandalkan karena dapat diuji secara empiris. Pernyataan bahwa “ada kehidupan di Mars bukanlah pernyataan tanpa makna karena tersedia teknologi yang diperlukan untuk membuktikannya. Sedangkan Teisme sangat tidak koheren dan tidak dapat diverifikasi atau dibuktikan kekeliruannya sehingga berbicara mengenai kepercayaan atau ketidak percayaan, beriman atau tidak beriman secara logis adalah mustahil ) .

Tuntutan A.J. Ayer untuk dapat membuktikan Tuhan secara empiris sama seperti tuntutan bani israil ketika di bukit Thursina :

“Dan ingatlah ketika kamu berkata : Hai Musa, kami tidak akan beriman kepada Tuhan sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kemudian kamu disambar petir, sedang kamu menyaksikannya.” (Q.S. Al-Baqoroh : 55)

Al-Qur’an tidak menafikan digunakannya pancaindera sebagai masukan kepada akal pikiran untuk memahami keberadaan Tuhan, seperti dikatakan :

“...Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? Kemudian lihatlah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (Q.S. Al-Mulk : 3-4)

Bukankah untuk melihat diperlukan mata sebagai salah satu pancaindera ?
Namun Al-Qur’an senantiasa mengingatkan bahwa Allah menciptakan pancaindera didampingi dengan HATI :

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan “afidah (hati) namun sedikit sekali kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Mulk :23)

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan hari (afidah) namun kamu sedikit sekali bersyukur” (Q.S. As Sajdah: 9)

Inilah perbedaannya. Orang yang cenderung berpikir materialis hanya membatasi diri menerima masukan dari pancainderanya. Sedangkan orang yang tidak cenderung berpikir hanif (lurus), disamping menggunakan pancainderanya juga menggunakan hatinya untuk membisikkan suara hati kecilnya kepada otaknya.

Mengapa kita tidak boleh hanya menggunakan pancaindera saja, melainkan juga harus mengikut sertakan hati dalam berpikir ?
Jawabannya karena manusia itu terdiri dari jasad kasar dan ruh. Panca indera adalah perangkat dari jasad, sedangkan hati adalah juru bicara ruh.

Orang yang mendengarkan kata hatinya , akan merasakan adanya sesuatu di luar dirinya yang mengatur kehidupannya. Demikian pula ketika dia memandang ke alam semesta, hatinya akan membisikkan ke otakknya akan rasa keagungan pencipta alam semesta ini. Karena perasaan ini memang telah ditanamkan oleh di dalam hatinya, sebagaimana Allah digambarkan Al-Qur’an kesaksian ruh ketika di alam akhirat sebelum dimasukkan ke dalam jasad manusia :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari tulang punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri mereka “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul, kami menjadi saksi”. Yang demikian itu agar kamu tidak mengatakan di hari kiamat kelak “Sesungguhnya kamu orang-orang yang lupa tentang hal ini”. (Q.S. Al-Araaf : 172)

Namun pada jaman sekarang ini, dimana demikian banyak kegiatan dan kesibukan, maka kebanyakan manusia mengabaikan suara hatinya. Terlebih lagi ketika orang hidup di tengah kemewahan, hiruk pikuk ketenaran dan sanjungan orang banyak, maka suara hati tersebut sama sekali tidak terdengar.

Hal inilah yang terjadi pada orang-orang yang gagal memahami dan merasakan kehadiran Tuhan. Hal ini diakui sendiri oleh orang semacam Karen Armstrong yang menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material yang hadir di hadapan kita ) .

Lebih lanjut Rudolf Otto dalam bukuya Idea of the Holy menyatakan bahwa perasaan akan adanya yang gaib ini (numinous) adalah dasar dari agama. Kadang orang merasa kecut, kagum dan hina di hadapan kekuatan misterius yang melekat dalam setiap aspek kehidupan ) .


Tafakkur dan Tadabbur

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan dan memikirkan segala sesuatu mengenai alam ini. Proses ini disebut sebagai tafakkur fil kaun. Atau memikirkan mengenai ayat-ayat Allah di alam :

“Katakanlah : Perhatikanlah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat ayat-ayat dan peringatan-peringatan terhadap kaum yang tidak beriman” (Q.S. Yunus 101)

Bahkan ayat-ayatAllah itu begitu menakjubkan bertaburan di dalam diri kita sendiri. Karena tubuh kita yang penuh dengan keajaiban ini adalah bukti akan adanya campur tangan Allah :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri ...” (Q.S. Adz Dzariyat : 53)

Tetapi tidak cukup hanya tafakkur untuk mengetahui hakekat Tuhan. Karena Tuhan tidak akan dapat kita pikirkan dengan akal pikiran kita sendiri. Kita akan mengetahui sifat-sifat Tuhan apabila Dia sendirilah yang memberitahu kita melalui kitabnya. Untuk itu kita memang harus menengok kitab Allah agar mengerti mengenai Tuhan. Proses ini disebut dengan tadabbur.

Melalui tadabur kitab alquran, kita diberitahu bahwa TIDAK MUNGKIN tuhan itu banyak.

“Katakanlah Jika ada bersama Nya beberapa tuhan, sebagaimana perkataan orang-orang, niscaya tuhan-tuhan itu akan mencari jalan (sendiri-sendiri) kepada yang mempunyai Arasy” (Q.S. Al-Israa’ : 42)

Proses berfikir dengan melibatkan pancaindera, dan hati serta mencari masukan melalui tafakkur kuauniyyah serta tadabbur kitabullah seperti inilah yang disarankan oleh Al-Qur’an, sebagaimana digambarkan sebagai perilaku orang-orang ulil albab :

“Sesungguhnya adalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantiny amalam dan sianga terdapat tanda bagi Ulil Albab” (Q.S. Ali Imran : 190)


Siapakah Ulil Albab itu ?

“(Yaitu) orang-orang yang memikirkan Allah dalam keadaan berdiri duduk dan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi....” (Q.S. Ali Imran : 191)


Membenarkan dan Meragukan

Orang yang hanya mengandalkan akal pikirannya sendiri saja, berdasarkan apa-apa yag mampu ditangkap panca inderanya saja, tidak akan dapat memahami keberadaan Tuhan walaupun ribuan kali dia memandangi langit. Kemudian apabila mereka diliputi dengan keragu-raguan mengenai adanya penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan :

“Maka apakah kami lemah dalam penciptaan pertama ? Bahkan mereka ragu-ragu dengan penciptaan yang baru” (Q.S. Qaaf : 15)

Sebaliknya orang yang menggunakan pancaindera, serta mendengarkan suara hati akan merasakan keagungan alam ini, dan berhasil memahami kerumitan pengaturan semesta, sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang membenarkan (tashdiiq) akan adanya proses penciptaan dan ada yang mengatur alam sebagaimana Ulil Albab mencapai pada pemahaman ini :

“(Yaitu) orang-orang yang memikirkan Allah dalam keadaan berdiri duduk dan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata ‘Ya Tuhan Kami tidaklah Engkau cipatakan ini semua dengan sia-sia, Maha SUci Engkau maka hindarkanlah kami dari siksa neraka” (Q.S. Ali Imran : 191)

Akibat dari ketidakmampuan mereka memahami Tuhan, mereka melakukan spekulasi, dugaan-dugaan (zhon), serta menyusun teori ini dan itu. Mereka menyangka Tuhan ini begini dan begitu.

“Sesungguhnya kebanyakan mereka hanyalah mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak dapat mengalahkan kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (Q.S. Yunus : 36)

Lihatlah betapa berbedanya kesudahan dan hasil akhir antara orang yang hanya menggunakan akal pikiran yang bersumber dari panca inderanya saja dengan orang yang menggunakan mata hatinya. Sigmund Freud yang dengan bodohnya menyimpulkan bahwa gagasan tentang Tuhan adalah suatu ketidakdewasaan yang akan dituntaskan dengan sains. Sementara Dr. Yusuf Qardhawiy dalam bukunya berjudul “Menyongsong Abad 21” berkesimpulan bahwa “Keimanan tidak hanya berguna untuk terhindar dari api neraka melainkan juga berguna untuk membangun alam”.


Hakekat Kafir Yang Sesungguhnya

Orang-orang yang tidak sampai otaknya untuk memahami ayat-ayat Tuhan di alam ini kemudian membuat kesimpulan2 yang berlawanan dengan Ulil Albab di atas.

Bahkan diantara mereka ada yang betul-betul menutup dirinya dari bukti-bukti kebenaran. Seperti perkataan Jean Paul Satre bahwa ide mengenai Tuhan itu ibarat sebuah lubang berbentuk Tuhan dalam kesadaran manusia. Dan seandainya Tuhan itu sungguh-sungguh ada, Dia tetap perlu di tolak ! Sebab menurut Jean Paul Satre gagasan tentang Tuhan menafikkan kemerdekaan kita.

Lihatlah orang seperti Jean Paul Satre itu, seandainya pun memang ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, dia tetap keras kepala untuk menolaknya. Orang seperti ini pada hakekatnya menutup dirinya sendiri dari kebenaran :

“Dan siapakah yang lebih aniaya dari pada orang yang diberi pengajaran dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia bepaling daripadanya dan melupakan apa-apa yangtelah dikerjakan kedua tangannya ? Sesungguhnya kami menjadikan atas hati mereka tutupan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan pada telinga mereka sumbatan. Karena itu jika engkau menyeru mereka kepada petunjuk, mereka tidak memperoleh petunjuk selama-lamanya.” (Q.S. Al-Kahfi : 57)

Seorang ulama besar dari Pakistan, yaitu Abul A’la Maududui berkata bahwa orang yang menutup dirinya sendiri, disebut dengan istilah “Kafir”. Karena istilah kafir berasal dari kata “kufr” yang artinya “menutup” seperti sebuah tutup menutup gelas. Orang seperti ini memiliki beribu alasan untuk menolak Tuhan, walaupun alasan tersebut sangat tidak masuk akal.

Sebagai contoh Albert Camus melihat secara picik bahwa orang sering saling membunuh untuk alasan cinta kepada Tuhan. Sehingga Albert Camus beralasan bahwa “Orang harus menolak Tuhan secara membabi buta agar cinta kasih mereka sepenuhnya tercurah kepada umat manusia”.

“Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya..” (Q.S. Al-A’raaf : 146)

Untuk orang-orang yang sudah menutup dirinya sendiri dari kebenaran, maka Allah akan menetapkan putusan takdir untuk menutup suara hatinya. Maka niscaya tidak akan bersuara dan tidak akan terdengar suara hatinya untuk selama-lamanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang telah tetap atas mereka kalimat Tuhan mu mereka tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala tanda-tanda (kebesaran Allah) sampai mereka menyaksikan adzab yang pedih” (Q.S. Yunus 96-97)

“Dan kami jadikan pada hati mereka tutupan untuk memahami (hakekat sesuatu) dan pada telinga mereka (Kami jadikan) sumbatan. Apabila engkau menyebutkan kata-kata Tuhan saja di dalam Al-Qur’an, maka mereka berpaling ke belakang” (Q.S. Al-Israa’ : 46)

Maka orang-orang seperti ini tidak akan menemukan jalan untuk mengenal Allah atau Ma’rifatullah selamanya. Sebagaimana perkataan Paul van Buren yang skeptis bahwa “pembicaraan mengenai Tuhan sudah tidak mungkin lagi dilakukan di dunia ini”.


bersambung bag.3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar